Showing posts with label Takengon Kota Kopi. Show all posts
Showing posts with label Takengon Kota Kopi. Show all posts

Panorama Terselubung

0 komentar

Berbeda dengan Aceh, diamlah di daerah hulu yang berpenduduk sangat beradab, yang kecerdasannya makin berkurang semakin jauh tempatnya ke pegunungan. Suatu kaum yang intelek, yang dapat menerima kecerdasan yang lebih tinggi dan dapat ditarik (relevansinya) dengan peradaban Eropa. Demikianlah kata Prof Wilhelm Voltz.TERJEMAHAN dari kutipan berbahasa Belanda karya HH van Kol Tiga Kali Melintasi Sumatera dan Perjalanan Mengembara ke Bali itu terpampang rapi di sebuah rumah penduduk Takengon, Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam.

SELEMBAR kertas yang mendeskripsikan masyarakat Dataran Tinggi Gayo itu dicetak berwarna dalam kertas HVS yang kemudian dibingkai sebagai pajangan di rumah Zuhrupan Daman, warga Gayo. Masyarakat Gayo memang begitu apresiatif dengan kesan HH van Kol yang pernah singgah di Takengon, awal tahun 1911.

Suku Gayo di Aceh Tengah berbeda dengan penduduk daerah Aceh pada umumnya. Mereka tidak mau disebut orang Aceh, dan lebih suka disebut sebagai orang Gayo. Karena itu, deskripsi orang Gayo berbeda dengan Aceh hingga kini tetap relevan.

Gayo memang mempunyai sejarah keturunan dari Batak Karo di Sumatera Utara. Pada awalnya, Aceh Tengah yang zaman dulu masih kosong belum berpenduduk memang menjadi pilihan warga Karo untuk bermigrasi. Kini Aceh Tengah telah dihuni beragam suku yang hidup damai.

Dalam hal pilihan politik dan dalam hal memandang Indonesia, Gayo memang berbeda dengan cara Aceh umumnya. Karena itu, saat ada Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Gayo tidak begitu antusias menyambutnya.

Fakta bahwa Gayo tidak begitu seaspirasi dengan GAM juga diakui oleh Gubernur GAM Wilayah Linge, Aceh Tengah, Dailami, yang putus asa karena tidak mendapat dukungan di Aceh Tengah. "Untuk membuat markas saja di sana tidak bisa karena tidak didukung masyarakat sekitar," katanya.

Saat konflik memanas di NAD, Aceh Tengah sempat bergolak namun tak selama di tempat lain di NAD. Kendala yang dihadapi Aceh Tengah waktu itu adalah jalan satu-satunya yang menghubungkan Aceh Tengah dengan dunia luar, yaitu Jalan Bireuen-Takengon, sempat "terputus".

Enam bulan setelah diberlakukan darurat militer di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), kini jalur Bireuen-Takengon sudah pulih. Angkutan malam pun juga sudah kembali beroperasi, walaupun baru terlihat kendaraan pengangkut sayur dan kebutuhan pokok lainnya.

Takengon sebagai ibu kota Aceh Tengah sejak awal dirancang sebagai kota wisata. Selain lokasinya berada di poros Aceh, Takengon memiliki sejumlah obyek wisata yang tidak ada di tempat lain. Hanya saja, hingga kini wisata Takengon masih terpukul akibat konflik.

SALAH satu obyek wisata yang terkenal di Takengon adalah Danau Laut Tawar, satu-satunya danau luas di NAD yang diapit oleh perbukitan. Dalam hal wisata alam, belum lengkap kiranya berkunjung ke NAD jika belum sampai ke danau ini.

Lokasi Danau Laut Tawar memang strategis. Dapat dikatakan, keindahan danau ini menjadi semacam ucapan selamat datang kepada pengunjung yang pertama kali memasuki Takengon.

Hanya saja, ucapan selamat datang itu kini semakin memudar keindahannya. Debit air danau semakin menyusut seiring dengan maraknya pembabatan hutan di wilayah daerah aliran sungai Danau Laut Tawar.

Beberapa obyek wisata yang menjadi pendukung kini sudah tak terurus, terbengkalai, dan kesepian tanpa pengunjung. Imbas dari rawannya keamanan jalan utama Bireuen-Takengon memang menjadi penyebab matinya wisata Takengon.

Di pintu utama menuju Takengon, tepatnya di sebuah tikungan yang terdapat semacam menara pandang untuk melihat danau, kini kondisinya semakin mengenaskan. Rumput ilalang dibiarkan tumbuh tinggi menutupi sudut pandang ke danau.

Jalan yang melingkari danau kini juga rusak, dan selama konflik ini belum diperbaiki sehingga mengganggu kenikmatan perjalanan. Padahal, jalan itu menjadi penghubung utama antara obyek wisata satu dengan yang lainnya.

Salah satu obyek pendukung yang kini masih hidup adalah Goa Loyang Koro. Namun, tidak jelas apa sebenarnya yang dijual dari obyek ini. Tipe goa yang ditawarkan pun tak lebih dari sebuah lubang mati.

Hanya saja, di lokasi wisata goa ini terdapat persewaan speed boat untuk berkeliling danau dengan tarif relatif murah. Jadi, kalau tidak ingin naik speed boat berkeliling danau, tidak ada alasan mengunjungi goa ini.

Terlepas dari semua kekurangan Danau Laut Tawar akibat imbas konflik, Takengon masih tetap layak untuk menjadi alternatif wisata ketika semua obyek wisata di NAD ambruk. Takengon menggabungkan antara keindahan danau dan bukit, kesejukan udara, tradisionalisme, sejarah perjuangan, serta keunikan budaya.

ACEH Tengah setidaknya mempunyai 20 obyek wisata. Tapi, sama dengan nasib Danau Air Laut Tawar, rata-rata obyek wisata itu terbengkalai. Sepinya wisatawan tidak mendorong pemerintah kabupaten untuk memelihara obyeknya.

Tidak hanya obyek wisata alam yang terbengkalai, obyek wisata sejarah pun telantar. Salah satu contoh adalah Monumen Radio Rimba Raya (RRR) yang merupakan wisata sejarah mengenang keberhasilan merebut kemerdekaan dengan siaran radio.

Monumen RRR di Desa Rimba Raya, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Aceh Tengah, itu kini semakin kesepian di tengah rimba. Selain ditumbuhi ilalang dan bangunannya retak-retak, fasilitas penunjang seperti taman dan kolam kini sudah tidak ada bekasnya lagi.

Lubang menganga dan retak-retak kini terlihat di bangunan dasar yang mengitari tugu antena. Warga di sekitar monumen mengatakan, sejak tahun 1997 monumen itu tidak pernah dipelihara. "Kami sebenarnya baru saja kerja bakti membersihkan rumput. Sebelum dibersihkan, monumen ini sudah tidak kelihatan," kata Usman, warga setempat.

RRR merupakan siaran radio yang berhasil menyelamatkan Indonesia saat-saat berada diambang kritis ketika ibu kota Indonesia di Yogyakarta berhasil direbut Belanda, 19 Desember 1948. Saat itu, RRI yang biasa menyiarkan kemerdekaan Indonesia juga berhasil dikuasai Belanda.

Radio Belanda Hilversum saat itu menyiarkan berita bahwa Indonesia sudah hancur. Pada saat genting itu, tanggal 20 Desember RRR mengudara dari rimba belantara untuk menyatakan bahwa Indonesia masih ada.

Untuk mengumandangkan siaran RRR, tentara Indonesia dari Divisi Gajah X harus berjuang mati-matian dan bergerilya setiap saat menghindari deteksi musuh. Monumen yang terlihat sekarang dibangun tahun 1990, diresmikan Bustanul Arifin yang saat itu menjabat Menteri Koperasi.

Rahmat, warga Rimba Raya, mengatakan, dirinya pernah mengajukan diri ke Pemkab Aceh Tengah untuk memelihara monumen. "Saya sudah mengajukan permohonan, semacam surat lamaran untuk bisa menjadi penjaga monumen ini, tetapi ditolak," katanya.

Selain monumen yang terbengkalai, sebuah truk tua yang dulu digunakan untuk mengangkut salah satu peralatan RRR, kini menjadi besi tua. Truk milik penduduk itu kini berada di rumah salah satu warga Kabupaten Bireuen.

Warga sekitar maupun warga Aceh Tengah pada umumnya tidak habis pikir mengapa pemerintah menelantarkan bukti sejarah penting tersebut. Jejak sejarah partisipasi Aceh dalam kemerdekaan Indonesia itu kini berangsur pudar.

Walaupun kondisinya aman, namun Takengon terkepung kabupaten lain yang relatif masih berbau konflik. Selama konflik, promosi wisatanya pun terkendala. Namun, bagaimanapun kondisi negeri ini, Aceh Tengah tak akan melewatkan event wisata yang satu ini: pacuan kuda tradisional.

Saat event-event wisata terhenti di NAD, pacuan kuda tetap digelar pada setiap perayaan Hari Kemerdekaan RI 17 Agustus. Bahkan, pacuan kuda tetap meriah seolah tak terpengaruh situasi darurat militer. Dan inilah yang makin mengukuhkan Aceh Tengah " berbeda" dengan Aceh lainnya.

Dikuti Dari:
http://www2.kompas.com

Biji Kopi Murni

0 komentar

ARABICA. Robusta. Timtim. Sidikalang. Jember. Dia sebut satu per satu jenis kopi itu. Dia juga hafal karakter tiap jenis. Robusta harum, tapi Arabica yang paling laku di pasaran.
Bardan Sahidi nama lengkapnya. Dia anak kedua dari keluarga petani kopi Gayo. Kebun orang tuanya seluas dua hektare. Hasil kebun itu membiayai sekolah Bardan dan dua saudaranya hingga tamat sarjana.
Ketika pemilihan umum legislatif 2004 silam, Partai Keadilan Sejahtera setempat menjagokan Bardan untuk duduk di kursi dewan. Kini, dalam usia 28 tahun, bapak beranak satu ini menjadi legislator termuda di Kabupaten Aceh Tengah. Ketika sebagian besar penduduk Indonesia sengsara akibat krisis ekonomi antara tahun 1997 sampai 1998 dan berujung pada jatuhnya pemerintahan Soeharto, sebagian besar tetangga Bardan di Takengon, ibu kota Aceh Tengah, justru makmur mendadak. Masa krisis di Indonesia adalah masa keemasan petani kopi di Takengon.
Pasalnya, kopi Takengon bukan konsumsi dalam negeri. Berton-ton ia dikirim ke Amerika Serikat, Belanda, Jepang, dan sejumlah negara Eropa. Perdagangan kopi di pasar internasional menggunakan dolar sebagai nilai tukar. Saat dolar menguat terhadap rupiah dan nilai rupiah terus merosot, petani kopi pun bergelimang uang.
Sejumlah warga membeli kendaraan dunia, sebagian lagi mencari kendaraan ke surga yang mereka yakini: menggunakan uang kopi itu untuk ibadah haji ke Mekah.
“Ada kebanggaan bisa pergi haji dari hasil panen kopi,” ujar Bardan, yang masih ingat histeria saat itu.

Benih Konflik
HAMPARAN kebun kopi seperti selimut hijau yang menutupi perbukitan memasuki Kota Takengon. Luas keseluruhan perkebunan itu hampir 74.000 hektare, sebelum Aceh Tengah dipecah jadi dua kabupaten pada awal 2004, Aceh Tengah dan Bener Meriah. Tapi orang lebih mengenal daerah ini dengan nama dataran tinggi Gayo.
Rata-rata kebun milik rakyat. Namun, sebelum itu pemerintah kolonial Hindia Belanda yang membukanya, menjelang akhir abad ke-19.

Kuli dari Jawa
Dalam buku The Blood of The People, Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra, Anthony Reid mengungkapkan, ini merupakan proyek perkebunan yang dikembangkan pemerintah kolonial di Sumatra Timur. Setelah tembakau dan kopi, Belanda kemudian membuka perkebunan teh, karet, dan kelapa sawit.
Kuli perkebunan didatangkan dari Jawa, karena saat itu Belanda kian sulit memperoleh tenaga kontrak yang terampil dan murah dari Tiongkok. Jumlah kuli kontrak asal Tiongkok mencapai 59.000 orang pada tahun 1900. Kuli Jawa sekitar 25.000. Namun pada 1929, jumlah kuli asal Jawa melonjak hampir sepuluh kali, sekitar 240.000. Sebaliknya, jumlah kuli Tionghoa berkurang dua kali lipat.
Pada tahun 1948, tiga tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan dari Belanda, orang Gayo dan Jawa mengambil alih perkebunan-perkebunan tersebut.
Ketika melakukan perjalanan ke Takengon, kesempatan menyeruput kopi tak saya lewatkan. Kopi kental, pekat, harum. Meski doyan minum kopi, saya tak pernah mau pusing soal jenis kopi apa yang saya minum. Robusta? Arabica? Timtim. Entahlah. Nikmati saja.

“SAYA juga petani kopi,” ujar Bahtiar Gayo, seraya menyeruput kopinya.
Bahtiar koresponden harian Waspada untuk wilayah Aceh Tengah. Kantor pusat Waspada ada di Medan. Sudah hampir lima tahun dia bekerja di harian tersebut.
Dia kemudian menuturkan pengalamannya sebagai wartawan dan petani kopi di masa konflik. Dua-dua mata pencarian itu berisiko tinggi.
“Kebun kopi saya ada dua hektare. Tidak terurus selama konflik,” kata Bahtiar.
Lebih dari 30 hektare kebun kopi di Aceh Tengah telantar, karena ribuan warga terpaksa mengungsi di masa konflik.
“Kebun kopi saya sudah jadi semak dan hutan sewaktu konflik. Saya tidak berani ke kebun, takut kena tembak,” ungkap Muhamad Yamin kepada saya.
Konflik membuat tiga dari lima anak Yamin berhenti sekolah. Keluarganya hidup serba terbatas. Yamin warga Pondok Baru, Bener Meriah. Dia pernah datang ke kantor Badan Reintegrasi Damai Aceh atau BRDA di Banda Aceh untuk minta bantuan dana. Dia perlu biaya membuka kembali kebunnya.
Pondok Baru pernah jadi salah satu daerah konflik terparah. Ada pasukan GAM yang bergerilya dari kebun kopi ke hutan. Ada patroli TNI bersenjata lengkap. Dan, belakangan muncul sipil bersenjata yang anti terhadap GAM. Tak ayal, petani kopi banyak yang tewas di tengah pertarungan ini.

PONDOK KRESEK, 2001, menjelang tengah malam. Pirin dan Suharto, ayah dan anak, tengah jaga malam bersama sejumlah lelaki di desa itu. Udara sejuk. Kebun kopi mengelilingi permukiman. Pondok Kresek terletak di Kecamatan Pondok Baru.
Tiba-tiba datang gerombolan bersenjata masuk kampung. Sekitar seratus orang. Warga menduga mereka itu pasukan GAM.
Udara sejuk pegunungan berubah panas. Gelap menjadi terang. Gerombolan itu membakar rumah warga, menembak membabi-buta. Orang kampung kocar-kacir menyelamatkan diri, lari meninggalkan kampung. Suharto selamat. Tapi bapaknya, Pirin meninggal dunia.
Selain Suharto, Radinal Sagita termasuk yang selamat malam itu. Umurnya 33 tahun. Panggilannya Enal. Sejarah keluarga Enal dimulai dari kakeknya yang jadi kuli kontrak Belanda dan tinggal di kabupaten ini.
Enal tak merasa punya persoalan dengan GAM. Dia tak tertarik dengan niat gerakan itu memerdekakan Aceh dari Indonesia. Dia tak tertarik pada politik. Tapi Enal tak habis pikir, mengapa para petani Jawa ikut dimusuhi dan dibantai.
Hati Enal sakit mendengar sumpah-serapah “Jawa penjajah, Jawa monyet” yang kerap dilontarkan GAM kepada warga keturunan Jawa.
Lama-kelamaan dia mendendam dan merencanakan pembalasan
Enal kemudian ikut front dan memimpin anak-anak muda melakukan perlawanan terhadap GAM. Dia jadi koordinator organisasi yang diberi nama Putra Jawa Kelahiran Sumatra atau disingkat Pujakesuma.
Mereka merakit senjata sendiri. Ilmu diperoleh dari orang tua mereka yang pernah bergabung dengan pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia atau DI/TII. Besi batangan, bahan baku senjata, diperoleh dari toko besi. Dia dan anggota front juga membuat bom molotov dari botol-botol beling. Mereka pun mengumpulkan parang.
Pada 2003, Enal bergabung dengan Pembela Tanah Air atau PETA wilayah Bener Meriah. Front ini gabungan dari front sejenis, seperti Gabungan Rukun Damai (Garuda), Front Pembela Merah Putih, Pujakesuma, dan beberapa lainnya. Total mereka yang bergabung dalam PETA mencapai 30.000 orang. Anggotanya tak hanya orang Jawa kelahiran Aceh, tapi juga orang Gayo.


Takengon Kota Kopi

1 komentar

Takengon adalah salah satu kota penting di Aceh. Menyimpan cerita tentang sejarah konflik pemanfaatan sumberdaya alam sejak zaman Belanda, Jepang bahkan selama masa konflik yang panjang. Hasil bumi dan keindahan alamnya menjadi pemikat berbagai pihak. Jika kita berjalan ditengah kota dengan suhu udara yang sejuk, kerapkali aroma kopi kering hangat yang sedang digiling merebak ke seluruh penjuru kota dan indera kita. Kopi Arabica utuh tanpa campuran sedang digiling dan menjadi ciri khas setempat.Kota tersebut adalah ibukota Kabupaten Aceh Tengah berlokasi di daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.200 meter diatas permukaan laut dengan pemandangan alamnya yang indah. Adanya Danau Lut Tawar, sebuah danau yang terbesar di Aceh bukan saja memberikan tambahan keindahan alam di wilayah ini tetapi memberikan tambahan potensi lain diantaranya potensi ikan air tawar.

Daerah Penting

Berada dalam gugus pegunungan Gayo bersama kabupaten Bener Meriah, Aceh Tenggara kota ini menyimpan catatan sejarah yang penting ditilik dari munculnya pengaruh kolonial Belanda yang sangat kuat pada sekitar tahun 1904. Faktor kekayaan alam dan posisi strategis menjadikan daerah ini dapat menjangkau keempat wilayah Aceh yaitu Aceh Timur melalui Bireun, Aceh bagian Barat melewati Meulaboh, Aceh Selatan melewati daerah Tapak Tuan serta Aceh Tenggara.

Luasnya lahan perkebunan kopi Arabica merupakan satu keunggulan kawasan ini. Beberapa hasil kekayaan alam lain yang sering dijumpai adalah tembakau, damar dan jenis holtikultur lainnya. Kota Takengon didirikan oleh sebuah perusahaan pengolahan kopi dan damar. Dengan kekayaan alamnya Takengon berkembang dan menjadi salah satu pusat pemasaran hasil bumi dataran tinggi Gayo, khususnya sayuran dan kopi. Bahkan pada masa pendudukan Jepangpun dari ini juga tetap menjadi magnet bagi Jepang untuk dapat dieksploitasi.

Aceh Tengah berdiri tanggal 14 April 1948 berdasarkan Oendang-oendang No. 10 tahoen 1948 dan dikukuhkan kembali sebagai sebuah kabupaten pada tanggal 14 November 1956 melalui Undang-undang No. 7 (Drt) Tahun 1956. Wilayahnya meliputi tiga kewedanaan yaitu Kewedanaan Takengon, Gayo Lues dan Tanah Alas.

Sulitnya transportasi dan didukung aspirasi masyarakat, akhirnya pada tahun 1974 Kabupaten Aceh Tengah dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara melalui Undang - undang No. 4 Tahun 1974. Kemudian, pada 7 Januari 2004, Kabupaten Aceh Tengah kembali dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dengan Undang -undang No. 41 Tahun 2003. Kabupaten Aceh Tengah tetap beribukota di Takengon, sementara Kabupaten Bener Meriah beribukota Simpang Tiga Redelong

Hasil Bumi

Dana Laut Tawar yang dikelilingi oleh gunung-gunung di tepi kota Takengon, adalah keindahan tersendiri bagi kota di ketinggian Tanah Gayo ini. Dari danau Laut Tawar itu mengalir sebuah sungai Krueng Peusangen yang bermuara di Selat Malaka. Danau seluas 5.742 hektar itu, adalah objek wisata penting, dan juga merupakan sumber air minum bagi masyarakat yang ada di kota Takengon. Selain menjadi daerah wisata danau tersebut menjadi lokasi yang cocok untuk budidaya ikan nila.

Dataran tinggi Gayo, memiliki kekayaan alam yang melimpah. Diperkirakan 60% persen merupakan kasawan lindung, dan selebihnya adalah adalah kawasan budidaya perkebunan. Topografi yang bergunung-gunung dan tanah yang subur memberikan keuntungan bagi usaha pertanian. Kabupaten ini memang masih menggantungkan ekonominya dari pertanian. Kontribusinya mencapai Rp. 839,91 milyar. Sebesar 32,05 persennya atau senilai Rp. 350,95 milyar disumbang dari perkebunan.

Kopi, Tembakau dan juga damar adalah tiga hasil bumi utama dataran tinggi Gayo. Khusus Aceh Tengah. Karakteristik alam, panorama pegunungan, hamparan bukit, dan kondisi alam yang sangat tenang, dingin dan kerap berselimut kabut, menjadikan pemandangan di dataran tinggi Gayo menjadi sangat fantastis.

Dilihat dari kejauhan saat kabut turun, sebuah kabupaten yang terletak di sepanjang Bukit Barisan itu seolah menyembul dari awan-awan yang melingkupinya. Kabupaten Aceh Tengah bagaikan “Negeri di atas awan”. Wilayahnya didominasi oleh pegunungan serta suhu udara yang sejuk memberi pesona tersendiri bagi daerah ini.

Kopi merupakan andalan utama daerah ini. Perkebunan kopi mencapai 73.461 hektar yang tersebar di seluruh kecamatan dan umumnya merupakan perkebunan milik rakyat. Sebanyak 53.902 keluarga petani kopi terlibat di usaha perkebunan ini. Penanaman kopi memang dikenal penduduk sejak zaman belanda. Bahkan sebagian besar kebun kopi yang ada sekarang merupakan peninggalan perkebunan Belanda.

Kopi Arabica adalah kopi favorit yang banyak ditanam di daerah ini. Selain karena memang cocok tumbuh di daerah yang berhawa sejuk, harganya pun relatif lebih tinggi dibanding kopi jenis lain. Rata-rata kisaran produksi tahunan antara 20-30ribu ton kopi. Hasil itu sebagian ada yang diekspor ke Amerika, Jepang dan Belanda, dan sebagian dikirim ke Medan kemudian baru diekspor ke negara tujuan, nilai ekspor kopi bisa mencapai 10 juta dollar AS lebih dalam setahun.

Issu Aceh dari Takengon

Aceh dalam masa recovery pasca tsunami dan rekonsialiasi sedang berbenah dan diuji. Dalam beberapa waktu terahkir, issu pembentukan provinsi baru dan perluasan kabupaten baru menjadi agenda warga dan kerap memancing perdebatan. Dalam bulan Pebruari 2008, lalu sebanyak 5 anggota Komite Peralihan Aceh, tewas setelah terbakar dalam tragedi Takengon. Kala itu kantor KPA (organisasi yang menghimpun eks GAM) diserang oleh warga. Berbagai analisis merebak dengan kejadian tragedi ini. Bahkan Gubernur Irwandi bahkan pernah mensinyalir ini namun belakangan diklarifikasi lagi oleh berbagai pihak. Beberapa pihak menduga ini sebagai imbas penolakan atas pemekaran wilayah provinsi Aceh menjadi Aceh Leuser Antara dan Aceh Barat Selatan.

Mengingat kompleksitas suku dan warga lokal kuat dugaan ini menjadi pemicu.Selain suku Gayo, di dataran tinggi ini juga berhimpun etnik Aceh, Batak dan Jawa. Namun tidak sedikit juga yang menganggap ini sebagai imbas konflik kepentingan antara preman dari suku setempat dengan KPA. Kompleksitas ini menjadi salah satu PR yang mesti segera di mediasi dengan baik dan benar oleh pengambil kebijakan di pemerintahan Aceh.

Selain itu, letak kabupaten yang berada di dominasi pegunungan, menjadikan daerah ini masih terisolir. Prasarana transportasi menjadi kendala utama Takengon dan daerah lain di Aceh Tengah. Jalur ke Takengon menjadi semacam jalan tanpa Artinya, angkutan semacam bus dan truk tidak dapat melanjutkan perjalanan ke daerah lain, sehingga kembali melalui jalan yang sama. Kalaupun ada kondisi jalan masih sangat sempit dan rusak. Seperti jalur dari Takengon ke Meulaboh yang sangat parah.

Akses menuju ke daerah ini sangat bergantung pada jalan Bireun – Takengon, serta jalan alternatif Takengon–Blang-Kejeren-Kutacane yang kurang representatif, kondisi kedua jalan itu sangat tidak kondusif, baik karena rawan longsor maupun gangguan lainnya, seperti gangguan keamanan. Membangun kawasan pegunungan yang terisolasi yang tidak memiliki prasarana transportasi merupakan tantangan bagi pemerintahan Aceh untuk memberikan nuansa perubahan dan pembangunan yang lebih merata utamnay pada wilayah-wilayah jauh seperti Gayo, Alas dan Aceh bagian selatan. Ini penting demi mencegah disintegasi pada wilayah Aceh yang terkenal sangat berdaulat dan otonom tersebut.


Copyright © ABDYA ACEH INDONESIA