Takengon Kota Kopi


Takengon adalah salah satu kota penting di Aceh. Menyimpan cerita tentang sejarah konflik pemanfaatan sumberdaya alam sejak zaman Belanda, Jepang bahkan selama masa konflik yang panjang. Hasil bumi dan keindahan alamnya menjadi pemikat berbagai pihak. Jika kita berjalan ditengah kota dengan suhu udara yang sejuk, kerapkali aroma kopi kering hangat yang sedang digiling merebak ke seluruh penjuru kota dan indera kita. Kopi Arabica utuh tanpa campuran sedang digiling dan menjadi ciri khas setempat.Kota tersebut adalah ibukota Kabupaten Aceh Tengah berlokasi di daerah pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.200 meter diatas permukaan laut dengan pemandangan alamnya yang indah. Adanya Danau Lut Tawar, sebuah danau yang terbesar di Aceh bukan saja memberikan tambahan keindahan alam di wilayah ini tetapi memberikan tambahan potensi lain diantaranya potensi ikan air tawar.

Daerah Penting

Berada dalam gugus pegunungan Gayo bersama kabupaten Bener Meriah, Aceh Tenggara kota ini menyimpan catatan sejarah yang penting ditilik dari munculnya pengaruh kolonial Belanda yang sangat kuat pada sekitar tahun 1904. Faktor kekayaan alam dan posisi strategis menjadikan daerah ini dapat menjangkau keempat wilayah Aceh yaitu Aceh Timur melalui Bireun, Aceh bagian Barat melewati Meulaboh, Aceh Selatan melewati daerah Tapak Tuan serta Aceh Tenggara.

Luasnya lahan perkebunan kopi Arabica merupakan satu keunggulan kawasan ini. Beberapa hasil kekayaan alam lain yang sering dijumpai adalah tembakau, damar dan jenis holtikultur lainnya. Kota Takengon didirikan oleh sebuah perusahaan pengolahan kopi dan damar. Dengan kekayaan alamnya Takengon berkembang dan menjadi salah satu pusat pemasaran hasil bumi dataran tinggi Gayo, khususnya sayuran dan kopi. Bahkan pada masa pendudukan Jepangpun dari ini juga tetap menjadi magnet bagi Jepang untuk dapat dieksploitasi.

Aceh Tengah berdiri tanggal 14 April 1948 berdasarkan Oendang-oendang No. 10 tahoen 1948 dan dikukuhkan kembali sebagai sebuah kabupaten pada tanggal 14 November 1956 melalui Undang-undang No. 7 (Drt) Tahun 1956. Wilayahnya meliputi tiga kewedanaan yaitu Kewedanaan Takengon, Gayo Lues dan Tanah Alas.

Sulitnya transportasi dan didukung aspirasi masyarakat, akhirnya pada tahun 1974 Kabupaten Aceh Tengah dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Aceh Tenggara melalui Undang - undang No. 4 Tahun 1974. Kemudian, pada 7 Januari 2004, Kabupaten Aceh Tengah kembali dimekarkan menjadi Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah dengan Undang -undang No. 41 Tahun 2003. Kabupaten Aceh Tengah tetap beribukota di Takengon, sementara Kabupaten Bener Meriah beribukota Simpang Tiga Redelong

Hasil Bumi

Dana Laut Tawar yang dikelilingi oleh gunung-gunung di tepi kota Takengon, adalah keindahan tersendiri bagi kota di ketinggian Tanah Gayo ini. Dari danau Laut Tawar itu mengalir sebuah sungai Krueng Peusangen yang bermuara di Selat Malaka. Danau seluas 5.742 hektar itu, adalah objek wisata penting, dan juga merupakan sumber air minum bagi masyarakat yang ada di kota Takengon. Selain menjadi daerah wisata danau tersebut menjadi lokasi yang cocok untuk budidaya ikan nila.

Dataran tinggi Gayo, memiliki kekayaan alam yang melimpah. Diperkirakan 60% persen merupakan kasawan lindung, dan selebihnya adalah adalah kawasan budidaya perkebunan. Topografi yang bergunung-gunung dan tanah yang subur memberikan keuntungan bagi usaha pertanian. Kabupaten ini memang masih menggantungkan ekonominya dari pertanian. Kontribusinya mencapai Rp. 839,91 milyar. Sebesar 32,05 persennya atau senilai Rp. 350,95 milyar disumbang dari perkebunan.

Kopi, Tembakau dan juga damar adalah tiga hasil bumi utama dataran tinggi Gayo. Khusus Aceh Tengah. Karakteristik alam, panorama pegunungan, hamparan bukit, dan kondisi alam yang sangat tenang, dingin dan kerap berselimut kabut, menjadikan pemandangan di dataran tinggi Gayo menjadi sangat fantastis.

Dilihat dari kejauhan saat kabut turun, sebuah kabupaten yang terletak di sepanjang Bukit Barisan itu seolah menyembul dari awan-awan yang melingkupinya. Kabupaten Aceh Tengah bagaikan “Negeri di atas awan”. Wilayahnya didominasi oleh pegunungan serta suhu udara yang sejuk memberi pesona tersendiri bagi daerah ini.

Kopi merupakan andalan utama daerah ini. Perkebunan kopi mencapai 73.461 hektar yang tersebar di seluruh kecamatan dan umumnya merupakan perkebunan milik rakyat. Sebanyak 53.902 keluarga petani kopi terlibat di usaha perkebunan ini. Penanaman kopi memang dikenal penduduk sejak zaman belanda. Bahkan sebagian besar kebun kopi yang ada sekarang merupakan peninggalan perkebunan Belanda.

Kopi Arabica adalah kopi favorit yang banyak ditanam di daerah ini. Selain karena memang cocok tumbuh di daerah yang berhawa sejuk, harganya pun relatif lebih tinggi dibanding kopi jenis lain. Rata-rata kisaran produksi tahunan antara 20-30ribu ton kopi. Hasil itu sebagian ada yang diekspor ke Amerika, Jepang dan Belanda, dan sebagian dikirim ke Medan kemudian baru diekspor ke negara tujuan, nilai ekspor kopi bisa mencapai 10 juta dollar AS lebih dalam setahun.

Issu Aceh dari Takengon

Aceh dalam masa recovery pasca tsunami dan rekonsialiasi sedang berbenah dan diuji. Dalam beberapa waktu terahkir, issu pembentukan provinsi baru dan perluasan kabupaten baru menjadi agenda warga dan kerap memancing perdebatan. Dalam bulan Pebruari 2008, lalu sebanyak 5 anggota Komite Peralihan Aceh, tewas setelah terbakar dalam tragedi Takengon. Kala itu kantor KPA (organisasi yang menghimpun eks GAM) diserang oleh warga. Berbagai analisis merebak dengan kejadian tragedi ini. Bahkan Gubernur Irwandi bahkan pernah mensinyalir ini namun belakangan diklarifikasi lagi oleh berbagai pihak. Beberapa pihak menduga ini sebagai imbas penolakan atas pemekaran wilayah provinsi Aceh menjadi Aceh Leuser Antara dan Aceh Barat Selatan.

Mengingat kompleksitas suku dan warga lokal kuat dugaan ini menjadi pemicu.Selain suku Gayo, di dataran tinggi ini juga berhimpun etnik Aceh, Batak dan Jawa. Namun tidak sedikit juga yang menganggap ini sebagai imbas konflik kepentingan antara preman dari suku setempat dengan KPA. Kompleksitas ini menjadi salah satu PR yang mesti segera di mediasi dengan baik dan benar oleh pengambil kebijakan di pemerintahan Aceh.

Selain itu, letak kabupaten yang berada di dominasi pegunungan, menjadikan daerah ini masih terisolir. Prasarana transportasi menjadi kendala utama Takengon dan daerah lain di Aceh Tengah. Jalur ke Takengon menjadi semacam jalan tanpa Artinya, angkutan semacam bus dan truk tidak dapat melanjutkan perjalanan ke daerah lain, sehingga kembali melalui jalan yang sama. Kalaupun ada kondisi jalan masih sangat sempit dan rusak. Seperti jalur dari Takengon ke Meulaboh yang sangat parah.

Akses menuju ke daerah ini sangat bergantung pada jalan Bireun – Takengon, serta jalan alternatif Takengon–Blang-Kejeren-Kutacane yang kurang representatif, kondisi kedua jalan itu sangat tidak kondusif, baik karena rawan longsor maupun gangguan lainnya, seperti gangguan keamanan. Membangun kawasan pegunungan yang terisolasi yang tidak memiliki prasarana transportasi merupakan tantangan bagi pemerintahan Aceh untuk memberikan nuansa perubahan dan pembangunan yang lebih merata utamnay pada wilayah-wilayah jauh seperti Gayo, Alas dan Aceh bagian selatan. Ini penting demi mencegah disintegasi pada wilayah Aceh yang terkenal sangat berdaulat dan otonom tersebut.


1 komentar:

kopi luwak said...

bang, boleh berbagi teplet blog nya, kalau baoleh krm ke pirdianus@gmail.com

Post a Comment

Copyright © ABDYA ACEH INDONESIA